Diguyur Hujan, Nobar Film Pesta Babi di Bontang Tetap Dipenuhi Penonton

12 hours ago 14

BONTANGPOST.ID, Bontang – Hujan yang mengguyur Kota Bontang pada Jumat malam (22/5/2026) tidak menyurutkan antusiasme masyarakat untuk mengikuti nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi karya sutradara Dandhy Laksono.

Pemutaran film digelar di halaman Sekretariat Forum Jurnalis Bontang (FJB), tepat di samping Kantor Kaltim Post Bontang. Meski cuaca kurang bersahabat, penonton tetap bertahan hingga acara selesai.

Kegiatan tersebut diprakarsai FJB bersama Lentera Muda Nusantara Bontang. Selain pemutaran film, panitia juga menggelar diskusi publik menghadirkan Dosen Pembangunan Sosial FISIP Universitas Mulawarman sekaligus Peneliti Senior Jaringan Pembangunan Sosial Kalimantan (Japsika), Sri Muliyati, serta Ketua KNPI Kota Bontang, Indra Wijaya.

Salah seorang penonton, Salma, pelajar SMA Negeri 2 Bontang, mengaku tertarik mengikuti nobar karena film tersebut tengah ramai diperbincangkan dan memunculkan pro-kontra di masyarakat.

Menurutnya, film dokumenter itu membuka wawasan terkait kondisi masyarakat adat di Papua yang menghadapi dampak pembangunan berskala besar.

“Film dokumenter ini membuka pikiran kita, khususnya saya sebagai pemuda, untuk tidak abai terhadap keadaan,” ujarnya.

Salma mengaku prihatin melihat masyarakat adat yang harus kehilangan hutan dan ruang hidup yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan mereka.

Sementara itu, Sri Muliyati menilai persoalan yang diangkat dalam film tidak hanya terjadi di Papua, tetapi juga bisa ditemukan di sejumlah wilayah Kalimantan yang mengalami tekanan akibat eksploitasi sumber daya alam.

“Film ini menjadi pengingat agar kita lebih kritis melihat arah pembangunan dan kebijakan pemerintah,” katanya.

Di sisi lain, Ketua KNPI Bontang, Indra Wijaya, menjelaskan judul Pesta Babi merupakan metafora yang menggambarkan praktik eksploitasi sumber daya alam yang dinilai mengabaikan kepentingan masyarakat lokal.

Menurutnya, terdapat perbedaan sudut pandang antara pemerintah dan masyarakat adat dalam memaknai hutan dan lahan.

“Bagi masyarakat adat, hutan bukan sekadar lahan, tetapi rumah dan identitas mereka,” ucapnya.

Ia menambahkan, dampak deforestasi bukan hanya hilangnya pepohonan, melainkan juga ruang hidup dan identitas budaya masyarakat adat. (*)

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |