Bongkar Muat Jabar timpang, Indramayu Kian Tersingkir

5 hours ago 1

Bisnis.com, CIREBON — Kinerja bongkar muat barang dan peti kemas di Jawa Barat pada Februari 2026 menunjukkan kontras tajam antara Pelabuhan Indramayu dan pelabuhan lainnya. Saat sejumlah pelabuhan utama mencatat lonjakan signifikan, aktivitas di Pelabuhan Indramayu justru mengalami penurunan, baik secara bulanan maupun tahunan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menyampaikan total volume muat barang dan peti kemas domestik pada Februari 2026 mencapai 234.361 ton. Angka ini melonjak 223,83% dibandingkan Januari 2026. Namun, kenaikan tersebut tidak merata di seluruh pelabuhan.

“Peningkatan volume domestik terutama ditopang oleh aktivitas di Pelabuhan Patimban dan Pelabuhan Cirebon, sementara di Indramayu justru mengalami penurunan signifikan,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).

Secara rinci, hanya tiga pelabuhan yang mencatat aktivitas muat domestik pada Februari, yakni Indramayu, Cirebon, dan Patimban. Di antara ketiganya, Indramayu menjadi satu-satunya yang mengalami kontraksi. Volume muat di pelabuhan tersebut turun 48,02% dibandingkan bulan sebelumnya.

Sebaliknya, Pelabuhan Patimban mencatat lonjakan paling signifikan dengan kenaikan mencapai 1.710,87%. Sementara Pelabuhan Cirebon juga tumbuh sebesar 183,11% secara bulanan. Kondisi ini memperlihatkan adanya pergeseran aktivitas logistik domestik ke pelabuhan-pelabuhan yang lebih modern dan strategis.

Jika dibandingkan secara tahunan, total volume muat domestik di Jawa Barat meningkat 63,23% dari 143.550 ton pada Februari 2025 menjadi 234.360 ton pada Februari 2026. Namun, lagi-lagi Indramayu menunjukkan tren berbeda.

Volume muat di Pelabuhan Indramayu yang mencakup Balongan dan Eretan turun drastis dari 128.660 ton pada Februari 2025 menjadi hanya 31.111 ton pada Februari 2026. Penurunan ini kontras dengan pertumbuhan agresif di Patimban dan Cirebon dalam periode yang sama.

Margaretha menjelaskan, dinamika tersebut mengindikasikan adanya perubahan pola distribusi barang di Jawa Barat. “Pelabuhan Patimban mulai mengambil peran lebih besar sebagai hub logistik baru, sementara pelabuhan lama seperti Indramayu mengalami tekanan,” katanya.

Dari sisi kumulatif tahun berjalan, volume muat domestik masih mencatat pertumbuhan sebesar 19,83% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, kontribusi Indramayu terhadap total volume terus menyusut.

Untuk muatan internasional, situasinya juga tidak berpihak pada Indramayu. Total volume muat internasional pada Februari 2026 tercatat 12.770 ton, turun 71,71% dibandingkan Januari 2026 yang mencapai 45.130 ton.

Menurut Margaretha, penurunan ini disebabkan oleh nihilnya aktivitas muat internasional di Pelabuhan Indramayu pada Februari 2026. Sementara itu, aktivitas internasional hanya tercatat di Pelabuhan Patimban, meskipun mengalami penurunan tipis sebesar 8,23% secara bulanan.

Secara tahunan, volume muatan internasional di Jawa Barat juga merosot 70,23%. Kondisi ini kembali dipicu oleh berhentinya aktivitas ekspor dari Indramayu, meskipun Patimban justru mencatat pertumbuhan sebesar 20,99% dibandingkan Februari 2025.

Secara kumulatif, muatan internasional sepanjang awal 2026 tercatat 57.900  ton, turun 33,40% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 86.932 ton.

Margaretha menilai, disparitas kinerja antarpelabuhan ini menjadi sinyal penting bagi penguatan infrastruktur dan distribusi logistik di Jawa Barat. “Optimalisasi pelabuhan perlu dilakukan secara merata agar tidak terjadi ketimpangan yang terlalu lebar,” ujarnya.

Source link

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |